BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Seiring dengan kemajuan zaman yang terus berkembang dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi. Berpikir, inteligensi, dan perasaan sangat diperlukan didalamnya. Dalam kehidupan sehari-hari kata berpikir sering disamakan dengan bernalar atau berpikir secara diskursif dan kalkulatif, kecendrungan ini menjadi sangat besar dengan semakin dominannya rasiolitas ilmiah teknologis atau rasionalitas instrumental, akan tetapi menurut Sudarminta sesungguhnya berpikir lebih luas dari sekadar bernalar (Basis 05-06, 2000:54). Mengenai inteligensi, Claparde dan Stern berpendapat bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru (Drs Irwanto, dkk 1989:166). Adapun mengenai perasaan dapat diartikan merupakan suatu keadaan kerokhanian sebagai akibat dari adanya kegoncangan oleh sesuatu sebab yang datang dari luar (J Linschoten, dkk 1983:139).

Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mengelola kehidupan yang penuh dengan teknologi serba canggih ini, karena tanpa ketiganya pengelolaan ini sulit untuk menjadi seperti apa yang diharapkan. Namun sulit untuk membuat definisi yang memuaskan mengenai ketiga faktor tersebut berkaitan dengan adanya batasan-batasan yang diberikan oleh para ahli, sehingga penulis berusaha untuk merangkum dan menguraikan mengenai penjelasan beserta beberapa faktor lain, yang nantinya dapat diterima oleh pembaca sesuai dengan harapan bersama.

I.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan  dibahas berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan sebagai berikut .

A. Apa yang dimaksud dengan berpikir itu ?

B. Apa yang dimaksud dengan intelegensi itu ?

C. Apa yang dimaksud dengan perasaan itu ?

I.3 Tujuan

Tujuan makalah ini adalah

A. Mengetahui pengertian tentang berpikir

B. Mengetahui pengertian tentang intelegensi

C. Mengetahui pengertian tentang perasaan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Berpikir

Pengertian

Para ahli psikologi asosiasi berpendapat bahwa definisi dari berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan ketika subjek berpikir pasif (Drs. Alex Sobur, M. Si. 2003:203). Ada yang berpendapat bahwa berpikir adalah aktifitas ideasional  Pada pendapat ini dikemukakan dua kenyataan, yakni:” Berpikir adalah aktifitas; jadi subjek yang bersifat aktif”, dan”aktifitas bersifat ideasional; yaitu berpikir menggunakan abstraksi-abstraksi atau ideas”. (Woodworth dan Marquis, dalam Suryabrata, 1995:54).

Dari pendapat-pendapat diatas berpikir dapat diartikan suatu kegiatan mental melibatkan kerja otak, perasan dan kehendak dari pribadi itu sendiri yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara ketahuan-ketahuan kita secara tepat. Berpikir juga berarti berjerih payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi, dalam berpikir juga memuat kegiatan memastikan, merancang, menghitung, mengukur, membandingkan, menggolongkan, membedakan, menghubungkan, menafsirkan, melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada,menalar atau menarik kesimpulan dari masalah-masalah, menimbang, dan memutuskan.

Biasanya, kegiatan berpikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan untuk dijawab atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan pemecahan. Seperti dikemukakan oleh Charles S. Pierce, dalam berpikir ada dinamika gerak dari adanya gangguan suatu keraguan (irritation of doubt) atas kepercayaan atu keyakinan yang selama ini dipegang, lalu terangsang untuk melakukan penyelidikan (inquiry), kemudian diakhiri (paling tidak untuk sementara waktu) dalam pencapaian suatu keyakinan baru (Drs. Alex Sobur, M.Si 2003:201-202).

Macam-Macam Berpikir

1.  Berpikir Deduktif

Deduktif merupakan sifat deduksi, kata deduksi berasal dari kata latin deducere (de berarti dari, dan kata ducere berarti mengantar, memimpin), dengan demikian kata deduksi yang diturunkan dari kata itu berarti mengantar dari suatu hal ke hal lain. Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduksi merupakan proses berfikir (penalaran) yang bertolak dari proposisi yang sudah ada, menuju proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan (Keraf, 1994:57).

Meskipun cara ini kurang sempurna, tetap bermanfaat kalau deduksi ini didasarkan pada suatu perumusan yang betul. Dasar dari pelajaran ilmu pasti dan alam adalah demikian pula halnya, dari suatu rumus umum dapat ditarik berbagai kesimpulan. Metode berpikir ini disebut berpikir analisi (Drs. Alex Sobur, M.Si. 2003:205).

2. Berpikir Induktif

Induktif artinya bersifat induksi. Induksi adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah kejadian individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi).Jadi , berpikir induktif (inductive thinking) ialah menarik suatu kesimpulan umum dari berbagai kejadian (data) yang ada disekitarnya (Drs. Alex Sobur, M.Si. 2003:215-216).

Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung pada representatif atau tidaknya sampel yang diambil, yang mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil, makin representatif dan makin besar pula taraf validitas dari kesimpulan itu, begitupn sebaliknya. Taraf validitas kebenaran  kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena-fenomena yang diselidiki (Purwanto, 1998:47-48).

3.  Berpikir Evaluatif

Berpikir evaluatif ialah berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatif, kita tidak menambah atau mengurangi suatu gagasan, kita menilainya menurut kriteria tertentu (Rakhmat, 1994).

Perlu diingat bahwa jalannya berpikir ada dasarnya ditentukan oleh berbagai macam faktor. Suatu masalah yang sama, mungkin menimbulkan pemecahan yang berbeda-beda pula. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi jalannya berpikir itu, antara lain, yaitu bagaimana seseorang melihat atau memahami masalah tersebut, situasi yang tengah dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman-pengalaman orang tersebut, serta bagaimana inteligensi orang itu (Drs. Alex Sobur, M.Si. 2003: 216).

B. INTELIGENSI

Pengertian

Inteligensi berasal dari kata latin yaitu Intellegere yang berarti memahami. Inteligensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan dari gaya atau potensi (Drs. Alex Sobur, M.Si. 2003: 155-156). Menurut W. Stern, inteligensi adalah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat dalam situasi yang baru. Sedangkan menurut V. Hees, inteligensi adalah sifat kecerdasan jiwa. Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan, inteligensi adalah kumpulan kelakuan yang menunjukkan hal yang cerdas (Drs. Agus Sujanto, 1989: 66).

Dalam buku Psikologi Umum macam-macam inteligensi ini dibedakan menjadi dua anatara lain :

  1. Inteligensi praktis ialah inteligensi untuk dapat mengatasi suatu situasi yang sulit dalam sesuatu kerja, yang berlangsung secara cepat dan tepat.
  2. Inteligensi teoritis ialah inteligensi untuk dapat mendapatkan suatu pikiran penyelesaian soal atau masalah dengan cepat dan tepat. (Drs. Agus Sujanto,1989:66).

Sedangkan faktor- faktor yang mempengaruhi inteligensi dalam buku Psikologi Umum adalah sebagai berikut :

  1. Pembawaan ialah segala kesanggupan kita yang telah kita bawa sejak lahir dam yang tidak sama pada setiap orang.
  2. Kemasakan ialah saat munculnya sesuatu daya jiwa kita yang kemudian berkembang dan mencapai saat puncaknya.
  3. Pembentukan ialah segala faktor luar yang mempengaruhi inteligensi dimasa perkembangannya.
  4. Minat, merupakan motor penggerak dari inteligensi kita. (Drs. Agus Sujanto,1989:66).

C. PERASAAN

Pengertian

Menurut Prof. Hukstra, perasaan ialah suatu pernyataan jiwa, yang sedikit banyak bersifat subyektif, untuk merasakan senang atau tidak senang, dan yang tidak bergantung pada perangsang dan alat- alat indera (Drs. Agus Sujanto, 1989: 75).

Dalam buku Psikologi Umum sifat- sifat perasaan dibedakan menjadi :

  1. Senang dan tidak senang
  2. Kuat dan lemah
  3. Lama dan tidak lama
  4. Relatif. Dan
  5. Tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan jiwa. (Drs. Agus Sujanto, 1989: 75).

Begitupun juga perasaan dalam buku Psikologi Umum menurut keadaannya dibedakan menjadi dua golongan :

  1. Golongan eukoloi ialah golongan orang yang selalu merasa tenang, gembira, dan optimis.
  2. Golongan diskoloi ialah golongan orang yang selalu merasa tidak tenang, murung, dan pesimis (Drs. Agus Sujanto, 1989: 75).

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari konsep diatas disimpulkan, para ahli psikologi asosiasi berpendapat bahwa definisi dari berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan ketika subjek berpikir pasif (Drs. Alex Sobur, M.Si. 2003:203). Ada yang berpendapat bahwa berpikir adalah aktifitas ideasional  Pada pendapat ini dikemukakan dua kenyataan, yakni:” Berpikir adalah aktifitas; jadi subjek yang bersifat aktif”, dan”aktifitas bersifat ideasional; yaitu berpikir menggunakan abstraksi-abstraksi atau ideas”. (Woodworth dan Marquis, dalam Suryabrata, 1995:54). Dan berpikir dalam penggolongannya dibedakan menjadi tiga diantarnya : Berpikir secara deduktif, Berpikir secara induktif, dan berfikir secara evaluatif.

Sedangkan inteligensi berasal dari kata latin yaitu Intellegere yang berarti memahami. Jadi inteligensi dapat didefinisikan sebagai aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan dari gaya atau potensi (Drs. Alex Sobur, M.Si. 2003: 155-156).. Adapun macam-macam inteligensi meliputi inteligensi praktis dan inlegensi teoritis. Namun yang tidak kalah pentingnya dalam kehidupan ini adalah perasaan, kerena setiap interaksi  antara satu dengan yang lain memerlukan perasaan. Dan perasaan menurut Prof. Hukstra ialah suatu pernyataan jiwa, yang sedikit banyak bersifat subyektif, untuk merasakan senang atau tidak senang, dan yang tidak bergantung pada perangsang dan alat- alat indera (Drs. Agus Sujanto, 1989: 75).

B. Saran

Cobalah untuk melangkah menjadi lebih baik lagi, dan benahi diri dari sekarang. Dan marilah hadapi kehidupan ini dengan berpikir jernih, inteligensi yang tinggi, serta perasaan yang penuh kasih sayang. Karena dengan ketiga hal ini diharapkan mampu menghasilkan daya pemikir unggul, sehingga mampu memberikan kontribusi kongkret dalam upaya mempertahankan identitas, integritas, dan kelangsungan hidup dalam rangka mencapai cita-cita nasional Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Irwanto, Drs, dkk. 1989. Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Linschoten, J. dkk. 1983. Pengantar Ilmu Jiwa Fenomenologi. Jemmars . Bandung.

Sobur Alex,Drs, M.Si. 2003. Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah. CV. Pustaka Setia. Bandung.

Sujanto, Agus, Drs. 1989. Psikologi Umum. Aksara Baru . Jakarta.

About Saifur

Pelajar

2 responses »

  1. priyosport07 says:

    bguss conkk,,
    tp klo bs pkek more tags biar gk scroll2 truss,,
    capek…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s