Penggunaan Diuretik Sebagai Doping dalam Olahraga

Diuretik merupakan zat yang meningkatkan produksi urine oleh ginjal (misalnya, kafein dalam teh, kopi, “kola”, dan minuman lain). Kafein digolongkan sebagai stimulan, diklaim dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan daya tahan. Efek samping yang sering timbul adalah kecemasan dan gangguan tidur. Efek diuretiknya berpotensi menimbulkan dehidrasi. Dosis yang diperbolehkan tidak lebih dr 12 mcg/ml dalam urin atau 8 cangkir kopi (Nutrition’s Blog. 11 april 2010).

Adapun Doping adalah pemberian obat/bahan secara oral/parental kepada seorang olahragawan dalam kompetisi, dengan tujuan utama untuk meningkatkan prestasi secara tidak wajar (Richard V.Ganslen).

Zat-zat terlarang pada kompetisi olahraga, yaitu anabolik agent, hormon dan zat terkait, beta-2 agonist, antagonis dan modulator hormon, diuretik dan masking agent lainnya. Masking merupakan penggunaan zat atau metode spesifik untuk mencegah atau mengelabui badan anti-doping dalam mendeteksi doping. Sebagai contoh penggunaan diuretik sebagai penurun berat badan, melarutkan urin, dan mengaburkan zat-zat lain, serta penggunaan probenesid untuk menghambat pengeluaran urin (Nutrition’s Blog. 11 april 2010).

Zat terlarang dalam kompetisi lainnya yaitu stimulan, narkotika, cannabinoid, glucocorticosteroid, alkohol dan beta blocker. Selain golongan narkotika, seperti kokain dan ganja, ada zat lain yang tergolong doping, yaitu anabolik dan turunannya, beta blocker, hormon, bahan dengan aktivitas antiestrogenik, dan diuretik. Komisi medik FIFA juga melarang metode yang memperkaya transfer oksigen darah secara buatan, manipulasi kimia dan fisika, serta penggunaan gen (Blog Doping dan Bahayanya. 15 Desember 2008).

Penggunaan deuretika terlalu banyak dapat berakibat pengeluaran garam mineral yang berlebihan. Akibatnya timbul kejang otot, mual, sakit kepala, dan pingsan. Pemakaian yang terlalu sering mungkin akan menyebabkan gangguan ginjal dan jantung (Blog Doping dan Bahayanya. 15 Desember 2008).

Doping bisa dibagi dalam beberapa golongan:
1. Berdasarkan materi zat tersebut, terbagi:
– Zat yang bersifat stimulan. Contohnya, amiphenazole, amphetamines, amineptine, caffeine, cocaine, pentylentetfazol, salbutamol, salmeterol, dan lain sebagainya.
– Narkotik, contohnya heroin, metadon, morfin, dan lain sebagainya.
– Anabolic. Golongan ini terbagi lagi dalam beberapa jenis, yaitu androgenic anabolic steroids dan beta-2-agonist. Contohnya, clostebol, nandrolone, stanozolol, clenbuterol, fenoterol, dan lain sebagainya.
Diuretik, contohnya acetazolamide, mannitol, bumetadine, dan lain sebagainya.
– Peptide dan hormon glikoprotein, contohnya chorionic gonadotrophin, corticotropin, atau jenis hormon yang biasa digunakan untuk pertumbuhan.
2. Obat-obat terlarang. Contohnya saja, marijuana, produk obat-obatan yang
beredar di pasaran, alkohol (ethanol dalam alkohol ini masih diperdebatkan), dan
lain sebagainya (http://www.mediaindo.co.id. 14 Mei 2000).

Beberapa olahragawan berusaha untuk mencurangi sistem pemeriksaan doping dengan menggunakan diuretik dan zat-zat lainnya untuk menyamarkan tanda-tanda penggunaan zat terlarang.

Efek sampingnya dapat secara langsung mempengaruhi kemampuan dalam berkompetisi dan berlatih. orang bisa mengalami:

–          pusing dan bahkan pingsan

–          dehidrasi

–          kram otot

–          penurunan tekanan darah

–          kehilangan koordinasi dan keseimbangan

–          kelainan jantung (Copyright © 2008 Ladi.or.id).

Merujuk dari beberapa referensi di atas, maka dapat dikatakan bahwa diuretik bisa digunakan sebagai obat doping dalam olahraga dikarenakan diuretik dalam kadar tertentu dapat digolongkan sebagai stimulan, diklaim dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan daya tahan.  Diuretik dapat meningkatkan eliminasi cairan dari tubuh sebagai urin. Mereka kadang-kadang disalahgunakan oleh atlet untuk mengurangi berat badan dengan cepat dalam olahraga seperti gulat di mana berat badan klasifikasi yang ketat yang terlibat; diuretik juga telah digunakan secara ilegal untuk mengurangi konsentrasi obat dalam urin sehingga obat-obatan terlarang lain tidak terdeteksi. Penggunaan diuretik dapat mempengaruhi keseimbangan mineral seperti kalium dan natrium dalam tubuh dan dapat menyebabkan, antara lain, di aritmia jantung dan bahkan kematian (Google terjemahan.Obat dan Olahraga. 2010).

Daftar Rujukan

Blog. 15 Desember 2008. Doping dan Bahayanya.

Copyright © 2008 Ladi.or.id. Bahaya Doping

Google terjemahan. 2010. Obat dan Olahraga.

http://www.mediaindo.co.id. 14 Mei 2000. Amphetamine hanya Dipakai sebagai Obat.

Nutrition’s Blog. 11 april 2010. Makanan dan Minuman Suplemen, serta Doping pada Atlet.

About Saifur

Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s