Klasifikasi Anak Tunagrahita

Berbagai macam cara digunakan oleh para ahli dalam mengklasifikasikan anak tunagrahita. Berikut ini Efendi (2006: 89-90) dalam bukunya mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Seorang dokter dalam mengklasifikasikan anak tunagrahita didasarkan pada tipe kelainan fisiknya, seperti tipe mongoloid, microcephalon, cretinism, dan lain-lain. Seorang pekerja sosial mengklasifikasikan anak tunagrahita didasarkan pada derajat kemampuan penyesuaian diri atau ketidak tergantungan pada orang lain, sehingga untuk menentukan berat ringannya ketunagrahitaan dilihat dari tingkat penyesuaiannya, seperti tidak tergantung, semi tergantung, atau sama sekali tergantung pada orang lain.

Klasifikasi anak tunagrahita dapat di bagi dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu sebagi berikut:

  1. IQ kurang dari 80-100 = lemah berpikir.
  2. IQ antara 60-80 = debil
  3. IQ antara 20-60 = imbisil
  4. IQ di bawah dari 20 = idiot (Widati dan Murtadlo, 2007: 266).

Klasifikasi anak tunagrahita juga dijelaskan oleh Astuti dan Walentiningsih (2011: 30-31) dalam bukunya yaitu terbagi menjadi tiga yakni tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, dan tunagrahita berat. Dari tiga klasifikasi tersebut mempunyai karakterisik masing-masing yaitu:

  1. Tunagrahita ringan: mampu belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana, pada usia 16 tahun tingkat kecerdasannya sama dengan anak kelas tiga/ lima SD, kematangan belajar membaca dicapai pada usia 9 sampai dengan 12 tahun, dapat bergaul dan mampu mengerjakan pekerjaan ringan.
  2. Tunagrahita sedang: tidak mampu mempelajari pelajaran akademik, perkembangan bahasa terbatas, berkomunikasi dengan beberapa kata, mampu menulis nama sendiri, nama orang tua adan alamat, mengenal angka tanpa pengertian, dapat dilatih bersosialisasi, mampu mengenali bahaya, tingkat kescerdasan setara anak usia 6 tahun.
  3. Tunagrahita berat: selalu tergantung pada orang lain, tidak mampu mengurus diri sendiri, tidak mengenali bahaya, tingkat kecerdasannya setara dengan anak usia 4 tahun.

Mengenai klasifikasi anak tunagrahita Smith (2012: 116-117) dalam bukunya  juga menjelaskan bahwa:

Para pendidik memakai istilah khusus untuk menggambarkan siswa-siswa mereka sesuai dengan klasifikasi pendidikannya. Klasifikasi tersebut digunakan dalam menggambarkan baik tingkat prestasi akademis yang diharapkan bagi siswa-siswa tersebut maupun penempatan pembelajaran yang sesuai dimana mereka ditetapkan. Siswa yang diberi istilah anak terbelakang mental mampu didik (educable mentally retarded) diharapkan dapat belajar membaca dan menulis pada tingkat sekolah dasar namun dengan langkah yang sedikit pelan. Siswa yang digambarkan sebagai anak terbelakang mental mampu latih (trainable mentally retarded) dianggap mampu belajar hanya beberapa kata terpisah dan kemampuan hitung yang terbatas. Anak-anak dan remaja yang dianggap tak mampu belajar pada tingkat trainable mentally retarded dikategorikan sebagai subtrainable  atau custodial. Mereka dianggap mempunyai tingkat rendah sehingga mereka menjadi tanggungjawab sekolah dan para pendidik. Adapula sistem klasifikasi lainnya yang sering dipakai oleh para psikolog dan dokter. Istilah mild mental retardation, moderat mental retardation, severe mental retardation, dan profound mental retardation telah dipakai dalam mengelompokkan orang-orang sesuai dengan prestasi dalam tes IQ. Pada tahun 1992 American Retardation Association on Mental Retardation (AAMR) menerbitkan revisi petunjuk mengenai definisi dan klasifikasi terbelakang mental. Revisi tersebut lebih menitikberatkan bagi kebutuhan orang-orang terbelakang mental ketimbang pada kecacatannya. AAMR menguraikan empat tingkat kebutuhan bantuan yang mungkin diperlukan oleh orang-orang penyandang keterbelakangan mental. Tingkatan-tingkatan tersebut adalah: intermitten needs, sifatnya episodik (berkala), tidak selalu membutuhkan bantuan; limited needs yaitu konsisten dari segi waktu namun intensitasnya terbatas; extensive needs yaitu serius dan jangka panjang; serta pervasive needs yaitu konstan dan intens sepangjang waktu. Definisi tahun tahu 1992 ini meletakkan penekanannya pada sikap adaptasi sebagai suatu ukuran terbelakang mental dan kurang penekanannya pada IQ.

About Saifur

Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s