Hakikat Bermain

Bermain merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Dengan bermain, anak dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan anak dalam dimensi motorik kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, sosial, dan sikap hidup (Yulianti, 2011: III). Seperti yang dikatakan juga oleh Helmi dan Zaman (2009: 6) bahwa bermain merupakan jendela perkembangan anak. Melalui bermain, aspek perkembangan anak bisa ditumbuhkan secara optimal.

Bermain dapat diartikan sebagai sebuah sarana yang dapat mengembangkan anak secara optimal karena dengan bermain anak akan bereksplorasi dan bereksperiman dengan dunia sekitar. Bermain merupakan aktifitas yang menyenangkan bagi anak, karena dengan bermain anak mendapakan kesempatan untuk menguasai sesuatu dan memunculkan rasa menjadi manusia penting (Amalia, 2010: 18)

Bermain juga bisa dikatakan sebagai fungsi dari ego yang mencoba memadukan tubuh dan proses-proses sosial dalam diri seseorang, bermain juga merupakan sebagai antithesis atau lawan yang tepat dari kerja, karena sifatnya menyenangkan, bebas dari tekanan atau paksaan hati, dan bebas dari sifat yang tidak masuk akal (Nuryadin, 2005: 109). Dan dapat diartikan bahwa bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan (Mahendra, 2003:1).

Secara umum menurut Yulianti (2011: 9-10) jenis permainan anak dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:

  1. Permainan aktif, yaitu permainan yang biasanya melibatkan lebih dari satu orang anak. Permainan aktif biasanya berupa olahraga yang bermanfaat untuk mengolah kemampuan kinestetik pada anak.
  2. Permainan pasif, yaitu permainan yang  bersifat mekanis dan biasanya dilakukan tanpa teman yang nyata. Salah satu permainan pasif yaitu permainan elektronik seperti playstation.
  3. Permainan fantasi atau permainan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh anak dalam dunianya.

Yulianti (2011: 10) juga menerangkan beberapa fungsi dan manfaat dari bermain dalam mengoptimalkan perkembangan anak, diantaranya:

  1. Bermain bagi anak dapat menyeimbangkan motorik kasar, seperti berlari, melompat dan lain-lain serta motorik halus seperti menulis, menyusun gambar atau balok, menggunting dan lain-lain. Keseimbangan motorik kasar dan halus akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak. Secara tidak langsung permainan merupakan perencanaan psikologi bagi anak untuk mencapai kematangan dan keseimbangan pada masa mendatang.
  2. Bermain dapat mengoptimalkan kinerja otak kanan. Melalui permainan fungsi kerja otak kanan dapat dioptimalkan karena dengan bermain seringkali menimbulkan kegembiraan bagi anak bahkan pertentangan. Hal ini berguna untuk mengui kemampuan diri anak dalam menghadapi teman sebayanya, serta mengembangkan perasaan relistis anak terhadap dirinya dan yterhadap lingkungannya, serta dapat mengembangkan penilaian secara objektif dan subjektif dirinya.
  3. Bermain bersama teman bisa membuat anak belajar memberi dan berbagi, serta belajar memahami nilai memberi dan menerima sejak dini. Misalnya saling berbagi makanan dan minuman, saling meminjamkan mainan. Anak juga akan belajar menghargai pemberian orang lain sekalipun ia tidak menyukainya, menerima kebaiakan dan perhatian temannya.
  4. Bermain dapat  menjadi sarana anak untuk belajar menempatkan dirinya selama sebagai mahluk sosial. Dalam bermain anak berhadapan dengan bernagai karakter yang berbeda, sifat dan cara berbicara yang berbeda pula sehingga anak dapat mengenal heterogenitas dan mulai memahaminya sebagai unsur penting dalam permainan. Dengan bermain membuat dunia anak lebih berwarna, perasaan kesal, marah, kecewa, sedih, senang, bahagia akan dia rasakan dalam bermain. Hal ini akan menjadi pengalaman emosional sekaligus belajar mencari solusi untuk menganggulangi perasaan-perasaan tersebut.
  5. Bermain juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk berlatih merealisasikan rasa dan sikap percaya diri, mempercayai orang lain, kemampuan bernegosiasi dan memecahkan masalah.
  6. Bermain dapat melatih perkembangan moral dan etika pada sikap anak. Anak yang yang melakukan permainan akan berinteraksi dengan anak-anak yang lain. Saat bermain dalam kelompok, anak seringkali dituntut untuk mematuhi peraturan dalam permainan, tidak boleh curang. Dengan ini maka anak-anak akan secara otomatis akan belajar untuk terus mematuhinya dan hal ini merupakan dasar terbentuknya sikap moral yang baik, beretika, dan bertatakrama.
  7. Bermain juga dapat mengembangkan kreativitas, karena dalam permainan anak-anak akan dapat menerapkan ide-ide mereka. Semakin banyak media dan jenis permainan yang anak-anak mainkan, maka semakin  banyak ide-ide yang bermunculan di dalam pikiran anak.

Selain itu bermain juga dapat mengembangkan komunikasi dan bahasa anak, karena dengan bermain anak akan mampu mengutarakan maksud dan pemikirannya terhadap teman-temannya. Pembelajaran komunikasi seperti ini akan melatih komunikasi anak secara alami.

About Saifur

Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s